Ferri: "Saya Hanya Pernah Cium Logo Inter"

FERRI: "SAYA HANYA PERNAH CIUM LOGO INTER"

Mantan bek Nerazzurri tampil dalam program Memorabilia di Inter Channel: "Meraih Scudetto yang memecahkan rekor itu luar biasa puas"

MILAN Riccardo Ferri menjadi tamu Alessandro Villa pada episode kedua acara Memorabilia di Inter Channel. 

Nerazzurri lahir dan dibesarkan, Riccardo mewakili klub selama 13 musim. Dia merebut gelar juara Serie A yang memecahkan rekor pada musim 1988/99, juga meraih satu trofi Piala Super Italia dan dua mahkota Piala UEFA.

Lahir di Crema, Lombardy pada 20 Agustus 1963, ia mengawali jenjang karir sepakbolanya di akademi sepakbola Inter bersama dengan Beppe Bergomi: "Saya melihat Beppe lebih sering dibanding kedua orangtuaku, kami sering melakoni perjalanan panjang bersama. Saya ingat dengan trial pertamaku di Rogoredo: Saya pikir dia itu sopir bis dengan kumisnya yang khas itu." 

Setelah bertahun-tahun tanpa banyak hal yang ditunjukkan, dia merebut gelar Scudetto yang memecahkan rekor pada musim 1988/89: "Selama musim itu, ketika kami meraup 58 angka, kami punya 11 starter dan sedikit pemain muda untuk melakukan hal itu. Mereka berkontribusi sangat besar dalam meraih sukses tersebut. Bandingkan dengan AC Milan yang memiliki beberapa pemain top, kami punya anak-anak dari tim akademi atau para pemain yang baru menembus tim yang masih harus membuktikan diri mereka sendiri"

"Itu merupakan pencapaian besar karena bisa mengungguli Milan dan Juventus pada era itu dan mampu memimpin liga adalah kepuasan yang dibangun di lapangan setiap menit."

"Dalam hal kualitas, setiap tim dari era tersebut terdapat sedikit pemain bintang dan beberapa penggawa internasional yang terbukti. Memenangkan kejuaraan tersebut adalah kepuasan yang besar, kami mampu tampil bagus sampai 1991 ketika kami menjuarai Piala UEFA untuk pertama kalinya bagi klub."

Pada 1990, Ferri menonton dua dari rekan-rekan setimnya di Nerazzurri dalam final Piala Dunia di Italia, Lothar Matthaus dan Andreas Brehme: "Lothar itu jenis pemain yang bisa mengubah ritme dan mengatur permainan. Ia seorang pemimpin, baik di sesi latihan maupun di pertandingan."

"Banyak orang meremehkan Brehme pada awalnya, namun kami melihat di latihan bahwa dia itu bukan pemain rata-rata. Ia punya dua kaki yang sepenuhnya bagus, dia juga memiliki visi hebat dan kemampuan teknis yang bagus sekali." 

Musim 1993/94 menjadi salah satu musim paling buruk dalam sejarah Nerazzurri. Inter finis di posisi ke-13 klasemen liga, satu angka di atas Piacenza yang terdegradasi, namun klub menambah raihan trofi Piala UEFA kedua setelah menang dua leg atas Salzburg.

"Tim itu tak menyadari kemampuannya sendiri. Kami mengawali musim dengan fokus ke Eropa, tapi kemudian mendapati diri kami berjuang keras untuk menghindari satu posisi degradasi – mengganti pendekatan kami itu susah."

"Pada akhirnya, kami menuai hasil fantastis di bawah Giampiero Marini yang membangun skuat kompak untuk mencapai tujuan. Dennis Bergkamp penting di tim itu, begitupula Wilm Jonk dan Walter Zenga. Walter dan saya mengucapkan selamat tinggal kepada San Siro seusai kemenangan tersebut, saya itu pria yang emosional dan meneteskan air mata pada kesempatan itu." 

Ferri tak dapat menghindari sebuah pertanyaan tentang bait terkenal dari lagu yang disenandungkan oleh Luciano Ligabue tentang kecenderungannya mencetak gol bunuh diri: "Dia seharusnya bisa bertanya kepada saya dengan sopan sebelumnya, terutama sejak ia seorang penggemar Inter! Meski demikian, saya bukan pemilik tunggal rekor tersebut: Comunardo Niccolai dan Franco Baresi juga bikin delapan gol bunuh diri. Walau begitu, saya berpengalaman baik sukses maupun gagal, dan saya selalu bertanggungjawab untuk itu. Dengan kriteria hari ini, tidak mungkin pemain lain membuat sebanyak itu!"

Setelah bertemu banyak sekali legenda sepakbola sepanjang karirnya, Riccardo juga diminta mengungkapkan siapa pemain lawan yang paling susah dikawal.

"Saya bertanding melawan banyak megabintang seperti Diego Maradona, Marco Van Basten dan Careca, yang banyak orang melupakannya. Ia susah dijaga: dia mungkin bermain dengan sentuhan pertamanya, cerdik secara taktik dan punya rekan-rekan setim seperti Maradona dan Bruno Giordano di sekelilingnya. Anda perlu seringkali meluangkan waktu setengah jam untuk melihat permainan dia (Careca)."

"Tentu, Anda mesti menyebutkan nama Maradona yang telah bermain 20 menit melawan kami dengan sangat keas – hampir seperti gangguan ke arah kami – atau Van Basten yang bermain dengan cara itu, sangat susah merebut bola darinya. Mengawal seorang Van Basten ketika Anda punya penguasaan adalah suatu hal, tapi melakukan itu pada saat timnya punya 80 persen penguasaan bola itu sesuatu yang berbeda."

Secara total, Ferri mencatat 418 penampilan dan menorehkan delapan gol, kebanyakan dari bola mati: "Seringkali saya maju untuk mencetak gol. Saya sering bikin gol di tim-tim akademi, namun kemudian saya semakin mendapat masalah dengan tendon patellar di kaki pendukung saya. Meski begitu, saya masih mencetak gol bagi Inter dan Italia yang memberiku banyak kesenangan."

"Saya secara khusus ingat dengan sebuah gol bagi Azzurri di Taranto ke gawang Hungaria – memikirkan itu lagi masih bikin saya merinding. Saya pikir satu dari pelatih kami Giovanni Turconi yang beberapa waktu lalu meninggal dunia. Saya berpikir untuk mendedikasikan satu gol itu kepada beliau. Giuseppe Giannini mengambil tendangan sudut dan bola mengarah kepadaku dari bola muntah. Saya menembaknya kali pertama dan bola masuk gawang. Ketika saya berlari, saya memikirkan beliau. Saya menelepon kedua orang tuanya langsung sesudah pertandingan, seringkali ada hal-hal terjadi yang membuat Anda bisa melakukan hal-hal yang Anda tak berpikir itu mungkin."

Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Inter, Riccardo menambahkan epilog pendek ke karirnya di Sampdoria. "Saya takkan pernah pergi ke Milan atau Juventus, tidak dengan semua uang di dunua. Kami tinggal untuk warna-warna ini."

"Saya memulai karir di akademi, bersaing dengan Juventus, Torino dan Napoli di sejumlah turnamen dan saya masih bertanding melawan mereka di akhir-akhir karirku bersama klub yang sama. Saya pernah mengalami petualangan singkat bersama Sampdoria yang menakjubkan. Saya cinta kota itu dan fans mereka, dan saya menghormati lambang klub tersebut, tapi saya tak pernah menciumnya. Saya hanya pernah mencium logo Inter. Cukup itu."


Versione Italiana 

Load More