Daniele Adani, dari Milan ke Empoli dengan penuh gaya

DANIELE ADANI, DARI MILAN KE EMPOLI DENGAN PENUH GAYA

Di balik setiap pesepakbola ada seorang manusia, dan Lele membawa harga diri, kehormatan, dan gaya demi Inter

MILAN – Di balik setiap pesepakbola ada seorang manusia. Dan sifat Daniele Adani yang  bijak dan baik hati menjadikannya manusia yang istimewa. Demikian kata seluruh rekan satu tim yang bekerja dengannya, serta semua orang yang pernah berhubungan dengannya, termasuk yang hanya sebentar.

Javier Zanetti dan Ivan Ramiro Cordoba akan mengatakan seperti itu. Mereka hadir di tengah-tengah ruang ganti yang terbentuk saat Inter dilatih Hector Cuper – ruang ganti yang, sebagaimana mereka berdua tekankan berkali-kali, merupakan landasan yang menjadi dasar tahun-tahun kejayaan yang dibangun oleh Mancini dan Jose Mourinho. Dan Adani adalah anggota penting di ruang ganti tersebut.

Di sinilah tempat lahir tim Inter yang luar biasa,  di mana batu pertama dari semua prestasi di masa depan diletakkan. Tahun-tahun saat keceriaan dan kesedihan dirasakan di lapangan, tapi senantiasa dengan kebanggaan besar karena bisa mengenakan kostum hitam biru Inter, serta harga diri yang tinggi. Karena sejarah Inter merupakan sejarah orang-orang besar, dan kebesaran tidak bisa diukut hanya dengan trofi.

Lele memasuki ruang ganti ini pada usia 28 tahun, pada puncak kariernya, ketika Cuper, yang mengagumi bakatnya di Fiorentina, menjadi pelatih tim. Penampilannya di musim pertama di Milan banyak dihambat oleh cedera tulang belakang bergeser, tapi dia selalu berterima kasih kepada para pemain dan pelatih. "Saya sudah belajar untuk mengatasi kontroversi dan tekanan yang datang karena bermain untuk sebuah klub besar sambil tetap mempertahankan gaya dan harga diri."

Inter mengakhiri musim 2002/03 di posisi kedua, tapi tersendat-sendat di awal musim berikutnya, sehingga Alberto Zaccheroni masuk sebagai pelatih. Itulah saatnya Adani ditempatkan di barisan pertahanan dengan tiga pemain untuk pertama kalinya – sebuah tantangan baru yang dia terima dengan antusias. Karena Lele, sejak awal kariernya di Modena, selalu bersemangat dengan permainan yang indah ini, dan analisisnya sebagai pengamat di TV merupakan bukti nyata.

Tingkat dedikasinya sangat tinggi: tumpukan catatannya ditulis dengan cermat dengan pulpen empat warna setelah menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari laga (dan bukan hanya liga tertinggi). Seorang profesional teladan.

Ini semua bermula di jalanan San Martino di Rio, dekat Reggio Emilia, di mana akarnya masih kuat. Di sana Lele menghabiskan berjam-jam bermain bola bersama teman-temannya, bermain dan belajar, tanpa menyadari bahwa suatu hari nanti dia akan tampil untuk membela Inter dan Italia.

Musim di bawah pelatih Zaccheroni berakhir dengan Inter di posisi empat dan merebut tempat ke play-off Liga Champions menyusul kemenangan penting atas Empoli, dan di Empoli lah Adani nantinya menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Serie A.

Selain membantu klub mencetak beberapa rekor (posisi tertinggi akhir musim di Serie A dan kualifikasi pertama kali ke sepak bola Eropa), dia adalah pemain veteran berpengalaman yang menjadi anutan semua pemain muda di ruang ganti. Dia sudah mempersiapkan kariernya yang kedua, memikirkan dan menganalisis pertandingan meskipun dia tidak berada di lapangan.

Dengan pikirannya yang terbuka, Lele membayangkan, menghasilkan, dan menginspirasi. Tidak heran dia sangat berhasil di dunia komunikasi, di mana tidak ada tempat untuk omongan kosong dan yang dibutuhkan adalah analisis yang dalam dan dapat dipertahankan.

Secara spiritual, Adani betah di Amerika Selatan, di mana sepak bola dalah gairah dan pemberontakan. Bukan kebetulan idolanya nomor satu adalah Muhammad Ali, seorang nabi abad ke-19 yang beralih menjadi petinju.

"Ada alternatif lain, dan alternatif itu adalah keadilan," demikian Orang Hebat itu pernah berkata. Ungkapan itu tertanam di pikiran Daniele Adani.  

Seperti halnya dia merasa dapat kehormatan untuk bermain bersama Inter, demikian juga bagi Inter untuk memiliki pemain seperti dia dalam kostum Nerazzurri, seorang anggota tim yang tidak pernah mengangkat trofi tapi memperlihatkan hal yang jauh lebih penting dari itu dengan harga diri, kehormatan, dan gayanya. Semuanya dikenang oleh fans Inter. Karena beberapa hal lebih berharga daripada Scudetto atau piala.

Carlo Pizzigoni


中文版  日本語版  Versione Italiana  English Version  Versión Española 

Load More