Hitam dan biru: dua warna, satu klub

HITAM DAN BIRU: DUA WARNA, SATU KLUB

Warna-warna klub kita selalu konstan sepanjang sejarah Inter, sejak Muggiani pertama menampilkannya tanggal 9 Maret 1908

MILAN – Semua orang mendukung klub mereka dengan cara unik mereka sendiri, tapi satu hal yang menyatukan seluruh fans adalah warna. Segala sesuatu berawal dari warna, dan warna kami adalah hitam dan biru.

Hitam biru sejak awal, dan hitam biru adalah yang Anda lihat sekarang di kalangan 40.000 pendukung yang secara teratur hadir untuk menyaksikan Nerazzurri di Meazza. Warna Inter berasal dari palet Giorgio Muggiani ketika Football Club Internazionale Milano didirikan tanggal 9 Maret 1908. Warna langit dan malam dikenakan di laga pertama dan laga terakhir, ketika Nerazzurri mencetak lima gol ke gawang Udinese dengan kostum kandang baru untuk musim depan, sebuah desain inovatif yang diilhami oleh kaki langit Milan.

Satu-satunya yang berubah selama ini adalah jumlah dan ketebalan strip vertikal. Pada masa-masa awal, para pemain harus membuat kostum sendiri dengan bantuan tukang jahit atau kerabat, yang tentunya menghasilkan nuansa warna dan desain yang berbeda (antara lima sampai 12 strip)

Lama kelamaan kostum ini dipakai untuk semua kebutuhan, dan estetika memainkan peran yang semakin penting: nuansa gelap yang sedikit berbeda, atau sedikit meninggalkan kebiasaan – seperti kostum yang seluruhnya hitam yang dikenakan pada laga persahabatan tahun 50-an.

Logika bisnis sekarang menuntut adanya kostum kedua dan ketiga, tapi kostum tandang yang pertama kabarnya sudah dikenakan tahun 1913/14, menampilkan jersey putih dengan strip hitam horizontal di dada.

Namun, secara umum, tidak banyak yang berubah selama sekian puluh tahun terakhir. Pernah ada strip kuning pada musim 2003/2004 dan jersey putih dengan palang berwarna merah pada musim 2007/08 untuk merayakan ulang tahun keseratus.

Kostum yang sama dikenakan di musim 1928/29, ketika klub terpaksa bergabung dengan Unione Sportiva Milanese. Setahun berlalu sebelum akhirnya Inter kembali mengenakan hitam dan biru serta menjuarai Scudetto ketiga bersama Arpad Weisz semusim kemudian.

Memang, terlepas dari perbedaan estetika, Inter selalu berjaya dengan hitam dan biru. Mulai dari gol menentukan oleh Jair di Piala Eropa 1964/65 sampai gocekan Ronaldo saat kita mejuarai Piala UEFA 19967/98 serta rangkaian penyelamatan gemilang Walter Zenga saat meraih Scudetto pemecah rekor dengan mengenakan jersey kiper baru. Sampai tahun 1970-an, kiper cenderung mengenakan hanya satu warna, kecuali Carlo Ceresoli – dia bisa dilihat di foto-foto tahun 30-an dengan kostum abu-abu yang menampilkan bendera Italia di bagian dada.

Kostum tandang Inter 2017/18, yang baru diperkenalkan beberapa hari yang lalu, menampilkan nuansa baru untuk tema ini: putih tradisional tapi dengan lengan hitam dan biru. Bagaimana pun suasana hari, warna-warna dasar tidak berubah. Dan musim depan Nerazzurri akan siap untuk kembali memburu kejayaan. Dengan mengenakan hitam dan biru.


Versione Italiana  English Version  中文版  日本語版 

Load More